Template by:
Free Blog Templates

Kamis, 05 Februari 2009

NaSiHaT MeNaRiK

Namanya Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan, lahir di Balkh dan wafat di Wasyjard di dekat Tirmiz pada tahun 237 H/852 M. Waktu Hatim mengunjungi kota Baghdad, banyak orang mengerumuninya. Salah seorang berkata: “Wahai Abi Abdurrahman!, Tuan tidak fasih berbicara dan bukan pula bangsa Arab, tetapi dengan siapa Tuan beranggar kata Tuan mesti keluar sebagai pemenang!” Hatim menjawab: “Dalam diriku ada 3 sifat yang dapat mengalahkan lawan, yaitu:
1. Bila kebenaran di pihak lawanku, aku gembira
2. Bila dia salah, aku menajdi sedih
3. Kupelihara diriku agar jangan memandang bodoh lawanku
Berita ini sampai kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimakumullah. Beliau pun berkata: “Alangkah cerdasnya Hatim ini! Mari kita menemuinya!” Setelah berjumpa, Imam Ahmad berkata: “Wahai Abi Abdurrahman, bagaimana caranya menyelamatkan diri dari tipu daya dunia?” Jawab Hatim: “Ya Abi Abdullah, menyelamatkan diri dari tipu daya dunia adalah dengan 4 sifat, yaitu:
1. Anda hadapi kejahilan orang dengan penuh lapang dada.
2. Jangan bertoleransi terhadap kejahilanmu.
3. Anda berikan kepada mereka kepunyaanmu.
4. Jangan kau harapkan yang mereka punya.
Pada saat tiba di kota Baghdad, khalifah diberitahu orang: “Pertapa dari Khurasan telah tiba!” Khalifah memerintahkan agar Hatim dibawa ke hadapannya. Ketika memasuki istana, Hatim berseru kepada khalifah: “Wahai khalifah pertapa!” Khalifah menyahut: “Aku bukan seorang pertapa, seluruh dunia di bawah perintahku. Engkaulah seorang pertapa.”
Hatim membalas: “Tidak, engkaulah seorang pertapa. Allah berfirman:’Katakanlah! Sesungguhnya kenikmatan di atas dunia ini adalah sedikit.’ Dan engkau wahai khalifah telah cukup puas dengan yang sedikit itu, jadi engkaulah yang seorang pertapa, bukan aku. Aku tidak akan puas baik dengan dunia ini maupun dengan akhirat. Bagaimanakah aku dapat dikatakan sebagai seorang pertapa?”

0 komentar: