Template by:
Free Blog Templates

Kamis, 05 Februari 2009

KiTa SeMuA TeMpAyAn ReTak

Seorang tukang air India memiliki dua tempayan besar. Masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak hanya dapat membawa air setengah penuh.
Selama 2 tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya. Dan merasa sedih sekali karena hanya memberikan setengah dari porsi yang seharusnya.
Setelah 2 tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.”
“Kenapa?” tanya si tukang air. Kenapa kamu merasa malu?”
“Aku hanya mampu, selama 2 tahun ini membawa setengah porsi air dari yang seharusnya karena keretakanku. Karena cacatku itu, aku telah membuatmu rugi.”
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihnya ia berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang pinggir jalan. Ia baru sadar akan hal itu. Dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor.
Untuk kedua kalinya tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air. Si tukang air berkata, “Apakah kamu memperhatikan bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu. Tapi kau tak pernah melihat bunga di sisi tempayan yang tak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu.
Setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kau mengairi benih-benih itu. Selama 2 tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu seperti adanya, majikan tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”
Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita sebagai hiasan-hiasan-Nya. Di mata Tuhan Yang Mahabijak, tak ada yang terbuang percuma.

0 komentar: