Seorang saleh berkisah: Ketika aku sedang thawaf di Ka’bah tiba-tiba terdengar suara wanita, “Ya Karim, Ya Karim Ahdakal Qadim (Wahai Zat Yang Maha Pemurah, Wahai Zat Yang Maha Pemurah, aku mengharap janji-Mu yang dulu….)”
“Apakah janji antara kamu dan Tuhan?” tanyaku.
Wanita itu menjawab, “Dulu aku naik perahu bersama banyak pedagang. Tiba-tiba di tengah laut datang angin menerpa perahu sehingga tenggelamlah seluruh isi perahu itu. Tak ada yang selamat kecuali aku dan bayiku ini, terapung di atas batang kayu di tengah laut, dan ada juga seorang hitam yang terapung di atas kayu. Pada pagi hari ketika si hitam itu melihatku, tiba-tiba dia berusaha keras untuk mendekatkan kayunya kepadaku. Ketika ia telah bersamaku di atas kayu, tiba-tiba ia mengajakku berzina. Aku katakan padanya, “Hai hamba Allah, apakah Anda tidak takut kepada Allah, sedangkn kita ini berada di tengah-tengah musibah yang tidak bisa mengharapkan keselamatan dengan taat, apalagi dengan maksiat?”
“Ah jangan ngomong begitu! Tidak bisa tidak kita harus melakukannya!” tekannya
Karena anakku sedang tidur di pangkuanku, maka aku cubit dia biar bangun, lalu aku berkata kepada si hitam, “Biarkan aku menidurkan anakku ini terlebih dulu, nanti terserah maumu.” tiba-tiba ia menarik anakku dan melemparkannya ke dalam laut, maka aku segera menengadah ke langit dan berdoa, “Ya Allah Tuhan yang dapat memisahkan seseorang dengan isi hatinya, pisahkan aku dengan si hitam ini, dengan kekuasaan dan kekuatan-Mu! Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu!”
Demi Allah belum selesai doa itu keluar dari mulutku, tiba-tiba ada binatang laut yang muncul dan langsung membuka mulutnya, terus menelan si hitam itu dibawa ke dalam air. Dan Allah telah menyelamatkan aku dengan rahmat dan karunia-Nya. Sungguh Dia Maha Kuasa atas segala yang dikehendaki-Nya.
Kemudian aku dibawa gelombang sampai ke sebuah pulau, dan di sana aku memakan apa saja yang aku dapat dari pohon dan minum dari air tawar. Kemudian setelah 5 hari, aku melihat sebuah perahu. Lalu dari atas bukit aku melambai-lambaikan sepotong kain. Ketika mereka melihat lambaianku, mereka segera mendekatkan perahunya.
Lalu keluar dari perahu itu tiga orang yang akan menjemputku. Ketika aku sudah di atas perahu, tiba-tiba aku melihat anakku ini di atas tangan salah seorang penumpang. Karena tak dapat menahan diri aku segera mengambil anakku lalu kudekap dan kuciumi sambil berkata, “Inilah anakku dan belahan hatiku!”
Orang-orang yang ada di dalam perahu itu heran dalam berkata, ”Apakah kamu gila?” Demi Allah aku tidak gila. Lalu kuceritakan kisahnya dari awal hingga akhir, lalu mereka berkata, “Hai Nyonya, karena Anda telah memberitakan kepada kami hal-hal ajaib, kami pun akan menyampaikan kabar serupa kepadamu. Ketika kami menjalankan perahu dengan angin yang baik, tiba-tiba kami dihadang oleh binatang laut yang besar, sedang anak ini berada di atas pugngung binatang itu. Lalu ada suara, “Jika kamu tidak mengambil anak ini, dia akan binasa!” Maka salah seorang dari kami turun untuk mengambil anak ini, dan begitu telah kami ambil, binatang itu menyelam ke dalam air, dan kami sungguh merasa takjub atas kejadian ini, juga atas beritamu. Karena itu sejak kini kami berjanji kepada Allah tidak akan berbuat dosa dan maksiat, dan hari ini kami bertaubat. “Maka bertaubatlah semua pelaut yang ada dalam perahu itu.
Ada riwayat bahwa doa yang dibaca oleh wanita itu adalah, “Ya Lathif Ya Karim Biluthfikal Qadim fa inna qalbi alal ahdi muqim.”
Kamis, 05 Februari 2009
KiTa SeMuA TeMpAyAn ReTak
Seorang tukang air India memiliki dua tempayan besar. Masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak hanya dapat membawa air setengah penuh.
Selama 2 tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya. Dan merasa sedih sekali karena hanya memberikan setengah dari porsi yang seharusnya.
Setelah 2 tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.”
“Kenapa?” tanya si tukang air. Kenapa kamu merasa malu?”
“Aku hanya mampu, selama 2 tahun ini membawa setengah porsi air dari yang seharusnya karena keretakanku. Karena cacatku itu, aku telah membuatmu rugi.”
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihnya ia berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang pinggir jalan. Ia baru sadar akan hal itu. Dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor.
Untuk kedua kalinya tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air. Si tukang air berkata, “Apakah kamu memperhatikan bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu. Tapi kau tak pernah melihat bunga di sisi tempayan yang tak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu.
Setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kau mengairi benih-benih itu. Selama 2 tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu seperti adanya, majikan tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”
Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita sebagai hiasan-hiasan-Nya. Di mata Tuhan Yang Mahabijak, tak ada yang terbuang percuma.
Selama 2 tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya. Dan merasa sedih sekali karena hanya memberikan setengah dari porsi yang seharusnya.
Setelah 2 tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.”
“Kenapa?” tanya si tukang air. Kenapa kamu merasa malu?”
“Aku hanya mampu, selama 2 tahun ini membawa setengah porsi air dari yang seharusnya karena keretakanku. Karena cacatku itu, aku telah membuatmu rugi.”
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihnya ia berkata, “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang pinggir jalan. Ia baru sadar akan hal itu. Dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor.
Untuk kedua kalinya tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air. Si tukang air berkata, “Apakah kamu memperhatikan bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu. Tapi kau tak pernah melihat bunga di sisi tempayan yang tak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu.
Setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kau mengairi benih-benih itu. Selama 2 tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu seperti adanya, majikan tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”
Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita sebagai hiasan-hiasan-Nya. Di mata Tuhan Yang Mahabijak, tak ada yang terbuang percuma.
Label:
cerita qalbu
FiLsAFAt AnGkA
Manusia berawal dari satu ketiadaan, lalu terlahir, tumbuh, tua, dan kembali menjadi tiada. Jadi manusia pada hakikatnya tiada. Ia ibaratnya angka nol.
Angka satu menunjukkan eksistensi Tuhan Yang Satu. Satu adalah asal dari segala angka. Dua adalah satu sebanyak dua. Tiga adalah satu sebanyak tiga. Yang asli hanyalah satu.
Sekarang mari kita jajar angka nol. Tiga nol, seratus nol, satu kilometer angka nol, nilainya tetap nol juga. Nol tak punya makna. Ia adalah kehampaan. Tapi mari kita coba jajar angka nol di belakang angka satu. Satu nol menjadi sepuluh. Enam angka nol menjadi sejuta. Seratus angka nol menjadi….? Anda bisa mengitungnya sendiri. Maknanya apa?
Hidup kita sesungguhnya tak punya makna jika kita mengorientasikan segala perbuatan kita untuk selain Allah. Untuk jabatan, kekuasaan, gelar, wanita atau pria yang kita cintai atau apa pun selain Allah. Karena itu semua adalah kenihilan dan kepalsuan.
Bukankah segala sesuatu selain Allah adalah nol? Mulanya tiada dan suatu saat akan kembali menjadi tiada. Hidup kita hanya akan punya makna jika kita mengorientasikan segala perbuatan kita hanya untuk mengabdi pada Allah, Zat Yang Satu. Kita belajar untuk Allah. Kita berkata “tidak” pada kekuasaan zalim bukan untuk merebut kekuasaan itu sendiri tapi untuk sepenuhnya membela kebenaran Tuhan. Kita bekerja ikhlas karena Allah. Semua berasal dari Allah dan akan kita kembalikan kepada Allah. Bukankah Allah telah mengajarkan kalimat yang sangat indah kepada kita?
“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semata, Tuhan sekalian alam.”
Angka satu menunjukkan eksistensi Tuhan Yang Satu. Satu adalah asal dari segala angka. Dua adalah satu sebanyak dua. Tiga adalah satu sebanyak tiga. Yang asli hanyalah satu.
Sekarang mari kita jajar angka nol. Tiga nol, seratus nol, satu kilometer angka nol, nilainya tetap nol juga. Nol tak punya makna. Ia adalah kehampaan. Tapi mari kita coba jajar angka nol di belakang angka satu. Satu nol menjadi sepuluh. Enam angka nol menjadi sejuta. Seratus angka nol menjadi….? Anda bisa mengitungnya sendiri. Maknanya apa?
Hidup kita sesungguhnya tak punya makna jika kita mengorientasikan segala perbuatan kita untuk selain Allah. Untuk jabatan, kekuasaan, gelar, wanita atau pria yang kita cintai atau apa pun selain Allah. Karena itu semua adalah kenihilan dan kepalsuan.
Bukankah segala sesuatu selain Allah adalah nol? Mulanya tiada dan suatu saat akan kembali menjadi tiada. Hidup kita hanya akan punya makna jika kita mengorientasikan segala perbuatan kita hanya untuk mengabdi pada Allah, Zat Yang Satu. Kita belajar untuk Allah. Kita berkata “tidak” pada kekuasaan zalim bukan untuk merebut kekuasaan itu sendiri tapi untuk sepenuhnya membela kebenaran Tuhan. Kita bekerja ikhlas karena Allah. Semua berasal dari Allah dan akan kita kembalikan kepada Allah. Bukankah Allah telah mengajarkan kalimat yang sangat indah kepada kita?
“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semata, Tuhan sekalian alam.”
Label:
cerita qalbu
ShALaT TeRnYaTa PeNoRmAL OTaK
Seorang dokter di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang ditemuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut hingga seperti tak bisa diterima oleh akal pikiran.
Dia adalah seorang dokter neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin dengan pengobatan secara Islami. Karena itu dia membuka sebuah klinik yang diberi nama “Pengobatan Melalui Al-Quran”. Klinik ini menggunakan obat-obatan seperti yang diisyaratkan Al-Quran. Antara lain berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.
Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam, dokter itu mengemukakan bahwa sewaktu kajian saraf yang ia lakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini yang tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara lebih normal.
Setelah membuat kajian yang memakan waktu, akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang, yaitu ketika sujud.
Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut menurut kadar waktu sembahyang yang diwajibkan Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otaknya tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Karena itu, penciptaan manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya”, karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.
Kesimpulannya: Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi yang bukan beragama Islam, walaupun akal mereka berfungsi secara normal, sebenarnya di dalam suatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan ketika membuat keputusan. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya, walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka. Maka tidak heranlah kalau timbul bermacam-macam gejala sosial saat ini.
Dia adalah seorang dokter neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin dengan pengobatan secara Islami. Karena itu dia membuka sebuah klinik yang diberi nama “Pengobatan Melalui Al-Quran”. Klinik ini menggunakan obat-obatan seperti yang diisyaratkan Al-Quran. Antara lain berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.
Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam, dokter itu mengemukakan bahwa sewaktu kajian saraf yang ia lakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini yang tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara lebih normal.
Setelah membuat kajian yang memakan waktu, akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang, yaitu ketika sujud.
Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut menurut kadar waktu sembahyang yang diwajibkan Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otaknya tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Karena itu, penciptaan manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya”, karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.
Kesimpulannya: Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi yang bukan beragama Islam, walaupun akal mereka berfungsi secara normal, sebenarnya di dalam suatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan ketika membuat keputusan. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya, walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka. Maka tidak heranlah kalau timbul bermacam-macam gejala sosial saat ini.
Label:
cerita qalbu
Langganan:
Postingan (Atom)
